Amuk masalembo
Ditemani angin puyuh
Serta gugur pucuk-pucuk akasia
Membunuh semanggi berdaun empat
Lalu,
perasaanku.
Betelgeuse
verba volant, scripta manent
"apa yang diucap akan lenyap menguap, apa yang ditulis akan mengabadi"
21 Februari, 2015
Bunga-bunga di Halaman - Sapardi Djoko Damono
mawar dan bunga rumput
di halaman: gadis yang kecil
(dunia kecil, jari begitu kecil) menudingnya
(dunia kecil, jari begitu kecil) menudingnya
mengapakah perempuan suka menangis
bagai kelopak mawar; sedang
rumput liar semakin hijau suaranya
di bawah sepatu-sepatu
bagai kelopak mawar; sedang
rumput liar semakin hijau suaranya
di bawah sepatu-sepatu
mengapakah pelupuk mawar selalu
berkaca-kaca; sementara tangan-tangan lembut
hampir mencapainya (wahai, meriap rumput di tubuh kita)
berkaca-kaca; sementara tangan-tangan lembut
hampir mencapainya (wahai, meriap rumput di tubuh kita)
23 Desember, 2014
Prosa Kedewasaan
Izinkan aku
untuk mengucap namamu dalam doa. Agar tersampaikan harapan yang tertuju. Lurus.
Mustajab. Semoga dengan bertambahnya usia, tercapai sudah apa-apa yang kau
inginkan. Diberkatilah umurmu dengan limpahan berkah dari-Nya.
“Selamat,
selamat ulang tahun”
Kepalaku
dipenuhi kata yang tak sanggup terucapkan. Kau tahu? Kadang aksara lebih jujur
dari apa yang terlihat. Mengungkap langsung hanya membuatku tidak nyaman. Jadi,
nikmati saja kalimat demi kalimat yang kuukir dengan perasaan tak menentu ini.
Jangan banyak komentar -apalagi tanya- karena sekarang -khusus untuk saat ini-
aku hanya ingin didengar.
“Selamat,
selamat ulang tahun”
Beribu
pilihan doa bergema di kepalaku. Indah. Menarik. Menjadikanku gamang dalam memilih.
Perlahan kupejamkan mata, dan kuharap kamu baik-baik saja. Selalu baik-baik
saja. Semoga dengan kedewasaan ini, sifat buruk -yang mungkin kau miliki- mulai
terkubur. Kau boleh berbaur, asal tidak melebur.
“Selamat,
selamat ulang tahun”
Tak ada yang
lebih membahagiakan selain berhasil di dunia dan di hari akhir sana. Kuharap,
kau salah satu orang yang terpilih untuk mencicipi luapan nikmat itu. Semoga
dengan merendahkan wajahmu dalam sujud lima waktu, Allah selalu menuntun dan
memberikan yang terbaik buatmu.
Hidup itu
sejatinya tentang pilihan. Tentang memilih apa yang paling ingin kita raih.
Tuhan telah membuat berbagai pilihan, dari yang besar hingga yang paling dasar.
Tinggal kita para mahluk-Nya yang harus pandai dalam menentukan. Ingin bersusah
payah untuk mendapatkan kebahagiaan yang kekal, atau terjebak dalam fatamorgana
kemegahan dunia? Surga bagi orang-orang tanpa iman. Semuanya terserah saja.
Tuhan tak memberikan batasan pada orang yang tak menginginkannya. “Selamat, selamat ulang tahun”
Sekarang aku
ingin bercerita. Tentang bumi dan purnama yang berkisah. Bagaimana bungkam bumi
yang rindu akan purnama. Yang hanya bisa berjumpa sekali dalam sebulan. Itu pun
tanpa tegur sapa. Hanya balas memandang. Kau pasti tahu panas inti bumi yang
meledak-ledak. Mungkin itu gelegak perasaan yang ingin disampaikannya pada
purnama yang tak kunjung bisa direngkuhnya, karena keegoisan jarak. Jadilah ia
hanya terpendam. Dan menghasilkan elok kristal dengan suhunya. Namun bumi tak
keberatan untuk tetap mencinta purnama yang jarang muncul itu. Karena tak
selamanya yang jauh benar-benar jauh. Mungkin purnama juga mendzikirkan nama bumi disana. Bumi hanya
bisa menerka.
“Selamat,
selamat ulang tahun”
Kadang aku
terlalu gagu untuk berterima kasih. Tanpa didahului permisi, aku seringkali
tertawa atas hal-hal kecil yang kau lakukan. Mungkin kau tak pernah
menyadarinya, karena tak semua bisa kuceritakan. Maka, khusus untuk hari ini,
aku ingin membilas apa-apa yang belum mampu kuucap dengan lugas. Terimakasih
dan maaf. Aku terlalu bingung untuk meminta maaf. Tak ayal, hanya sesekali saja
kata itu terucap.
“Selamat,
selamat ulang tahun”
Akan ada
masa dimana kau harus meninggalkan ‘kediaman’ yang selama ini kau anggap bagai
rumah. Tempat dimana kau terperangkap penuh cerita. Tempat itu pula yang
membuatmu bertumbuh dengan terjaga. Jangan lupakan apa yang telah kau dapat.
Jangan goyah di luar sana. Kau harus segera terbiasa dengan kehidupan di balik
gerbang yang biasanya setia mengekang. Karena kita tahu, hidup memang tak
mudah. Semoga Allah selalu menjaga lentera jiwamu agar tetap bercahaya tanpa
pernah redup.
“Selamat,
selamat ulang tahun”
Menurut
persepsiku, hidup itu bagai bianglala. Yang bergerak menjauh untuk kembali.
Sekarang carilah, temukan jati diri. Aku yakin, akan ada banyak yang menunggumu
kembali. Menunggumu menemukan arti, yang membuat orang-orang di sekitarmu
mengerti.
“Hei,
selamat delapan belas tahun :)”
Sedari tadi
aku tidaklah puitis.
Apalagi bermaksud sok manis.
Ini semua terjadi begitu
saja.
Tertulis.
Mengabadi.
Magis.
ZHELAYU
USPEKHA!
14 November, 2014
Kehilangan
Pada awalnya
kita akan menangis saat kehilangan sesuatu yang berharga --atau mungkin lebih
tepatnya seseorang. Kita menangis bukan semata-mata ingin memberikan kesan
lemah atau benci pada garis takdir. Kita hanya belum rela. Dan ketidakrelaan
itu membuat barisan berlapis yang berusaha mendesak keluar. Memaksa mata
mebukakan jalan pada cairan-cairan ketidakrelaan tersebut.
Namun setelah proses menuju kerelaan usai, kita sudah terlalu letih untuk menyimpan sisa-sisa butir ketidakrelaan. Jadilah kita lega dan mulai mengamalkan ilmu ikhlas. Dengan senyum yang baru. Dengan kerelaan yang menguatkan.
“Karena
sejatinya tak ada kekekalan hakiki, maka kita harus memahami arti ikhlas dengan
lebih baik lagi”
13 Oktober, 2014
Akhir cerita
Aku sedang menyusun mozaik dari sebuah pelangi pudar
Akankah kau sabar menunggu?
Hingga keping terakhir menjadikannya sempurna?
dan kita bisa menarik kesimpulan
dari setiap dongeng yang mulai nyata
Sabar
Sebentar lagi
Tinggal sebentar lagi
Waktu akan terus berlari untuk kita
Meski diredam senyap
dan jiwaku sesak oleh pengap
Kau tak akan kubiarkan lenyap
19 September, 2014
Menemukan Yang Hilang
Kabut tipis membungkus kanopi
Payah bias sang surya menggeliat menembus
Kembang mungil ungu muda menyembul malu-malu
Bersembunyi di antara hamparan karpet hijau tak terukur
Disini..
Derik serangga bagai orkestra musim semi
Kecipak air beriak mengalir
Seolah berteriak permisi pada bongkah batu berlumut
Hening.. dingin..
Membekukan manusia yang merindu
Sepetak tanah ini mungkin biasa
Tapi tolong,
Deklarasikan bahwa ini bagian kecil dari zamrud khatulistiwa
Tanah subur yang terluka
Tuan rumah melarat, terjajah bodoh dan angkuh
Seakan merdeka hanya milik mereka dengan rumah megah
yang rakus memuaskan nafsu sendiri
Tanpa pernah sadar harta karun negri ini mulai digerus
Tanpa pernah sadar anak bangsa negri ini diinjak, diperas, dicekik
Oleh orang-orang kulit putih berdasi
Kami diam tepekur
Setia di ujung timur
Puncak Jaya bertabur serbuk putih
Serasi dengan sang saka yang berkibar melambai
Anggrek macan merekah penuh pesona
Batang emas usah susah kau cari
Ya, ini tanah kami
Papua anak ibu pertiwi
Hati kami terpancang, terpaku, tertaut
Kadang lidah kami terbakar
Darah menggelegak sampai ubun
Hati kami tercekik ketidakadilan
Lengkingan yang menyesak rongga, namun tak menyeruak
Jadi kami telan bulat-bulat kesal itu
Tanpa alasan, kami bertahan mencinta negri ini
Suatu hari nanti
Kuharap bisa menemukan bekas sepatumu disini
Jejakmu, menumbuhkan rasa memiliki
Bukti bahwa kau telah menemukan
Secuil surga yang mulai pupus
#17 september 2014
#Social Class
Payah bias sang surya menggeliat menembus
Kembang mungil ungu muda menyembul malu-malu
Bersembunyi di antara hamparan karpet hijau tak terukur
Disini..
Derik serangga bagai orkestra musim semi
Kecipak air beriak mengalir
Seolah berteriak permisi pada bongkah batu berlumut
Hening.. dingin..
Membekukan manusia yang merindu
Sepetak tanah ini mungkin biasa
Tapi tolong,
Deklarasikan bahwa ini bagian kecil dari zamrud khatulistiwa
Tanah subur yang terluka
Tuan rumah melarat, terjajah bodoh dan angkuh
Seakan merdeka hanya milik mereka dengan rumah megah
yang rakus memuaskan nafsu sendiri
Tanpa pernah sadar harta karun negri ini mulai digerus
Tanpa pernah sadar anak bangsa negri ini diinjak, diperas, dicekik
Oleh orang-orang kulit putih berdasi
Kami diam tepekur
Setia di ujung timur
Puncak Jaya bertabur serbuk putih
Serasi dengan sang saka yang berkibar melambai
Anggrek macan merekah penuh pesona
Batang emas usah susah kau cari
Ya, ini tanah kami
Papua anak ibu pertiwi
Hati kami terpancang, terpaku, tertaut
Kadang lidah kami terbakar
Darah menggelegak sampai ubun
Hati kami tercekik ketidakadilan
Lengkingan yang menyesak rongga, namun tak menyeruak
Jadi kami telan bulat-bulat kesal itu
Tanpa alasan, kami bertahan mencinta negri ini
Suatu hari nanti
Kuharap bisa menemukan bekas sepatumu disini
Jejakmu, menumbuhkan rasa memiliki
Bukti bahwa kau telah menemukan
Secuil surga yang mulai pupus
#17 september 2014
#Social Class
16 September, 2014
Kahlil Gibran
"But let there be spaces in your togetherness and let the winds of the heavens dance between you. Love one another but make not a bond of love: let it rather be a moving sea between the shores of your souls"
Langganan:
Komentar (Atom)