"apa yang diucap akan lenyap menguap, apa yang ditulis akan mengabadi"

23 Desember, 2014

Prosa Kedewasaan


Izinkan aku untuk mengucap namamu dalam doa. Agar tersampaikan harapan yang tertuju. Lurus. Mustajab. Semoga dengan bertambahnya usia, tercapai sudah apa-apa yang kau inginkan. Diberkatilah umurmu dengan limpahan berkah dari-Nya.
 
“Selamat, selamat ulang tahun”
Kepalaku dipenuhi kata yang tak sanggup terucapkan. Kau tahu? Kadang aksara lebih jujur dari apa yang terlihat. Mengungkap langsung hanya membuatku tidak nyaman. Jadi, nikmati saja kalimat demi kalimat yang kuukir dengan perasaan tak menentu ini. Jangan banyak komentar -apalagi tanya- karena sekarang -khusus untuk saat ini- aku hanya ingin didengar.

“Selamat, selamat ulang tahun”
Beribu pilihan doa bergema di kepalaku. Indah. Menarik. Menjadikanku gamang dalam memilih. Perlahan kupejamkan mata, dan kuharap kamu baik-baik saja. Selalu baik-baik saja. Semoga dengan kedewasaan ini, sifat buruk -yang mungkin kau miliki- mulai terkubur. Kau boleh berbaur, asal tidak melebur.

“Selamat, selamat ulang tahun”
  Tak ada yang lebih membahagiakan selain berhasil di dunia dan di hari akhir sana. Kuharap, kau salah satu orang yang terpilih untuk mencicipi luapan nikmat itu. Semoga dengan merendahkan wajahmu dalam sujud lima waktu, Allah selalu menuntun dan memberikan yang terbaik buatmu.
Hidup itu sejatinya tentang pilihan. Tentang memilih apa yang paling ingin kita raih. Tuhan telah membuat berbagai pilihan, dari yang besar hingga yang paling dasar. Tinggal kita para mahluk-Nya yang harus pandai dalam menentukan. Ingin bersusah payah untuk mendapatkan kebahagiaan yang kekal, atau terjebak dalam fatamorgana kemegahan dunia? Surga bagi orang-orang tanpa iman. Semuanya terserah saja. Tuhan tak memberikan batasan pada orang yang tak menginginkannya. 

“Selamat, selamat ulang tahun”
Sekarang aku ingin bercerita. Tentang bumi dan purnama yang berkisah. Bagaimana bungkam bumi yang rindu akan purnama. Yang hanya bisa berjumpa sekali dalam sebulan. Itu pun tanpa tegur sapa. Hanya balas memandang. Kau pasti tahu panas inti bumi yang meledak-ledak. Mungkin itu gelegak perasaan yang ingin disampaikannya pada purnama yang tak kunjung bisa direngkuhnya, karena keegoisan jarak. Jadilah ia hanya terpendam. Dan menghasilkan elok kristal dengan suhunya. Namun bumi tak keberatan untuk tetap mencinta purnama yang jarang muncul itu. Karena tak selamanya yang jauh benar-benar jauh. Mungkin purnama juga  mendzikirkan nama bumi disana. Bumi hanya bisa menerka.

“Selamat, selamat ulang tahun”
Kadang aku terlalu gagu untuk berterima kasih. Tanpa didahului permisi, aku seringkali tertawa atas hal-hal kecil yang kau lakukan. Mungkin kau tak pernah menyadarinya, karena tak semua bisa kuceritakan. Maka, khusus untuk hari ini, aku ingin membilas apa-apa yang belum mampu kuucap dengan lugas. Terimakasih dan maaf. Aku terlalu bingung untuk meminta maaf. Tak ayal, hanya sesekali saja kata itu terucap.

“Selamat, selamat ulang tahun”
Akan ada masa dimana kau harus meninggalkan ‘kediaman’ yang selama ini kau anggap bagai rumah. Tempat dimana kau terperangkap penuh cerita. Tempat itu pula yang membuatmu bertumbuh dengan terjaga. Jangan lupakan apa yang telah kau dapat. Jangan goyah di luar sana. Kau harus segera terbiasa dengan kehidupan di balik gerbang yang biasanya setia mengekang. Karena kita tahu, hidup memang tak mudah. Semoga Allah selalu menjaga lentera jiwamu agar tetap bercahaya tanpa pernah redup.

“Selamat, selamat ulang tahun”
Menurut persepsiku, hidup itu bagai bianglala. Yang bergerak menjauh untuk kembali. Sekarang carilah, temukan jati diri. Aku yakin, akan ada banyak yang menunggumu kembali. Menunggumu menemukan arti, yang membuat orang-orang di sekitarmu mengerti.

“Hei, selamat delapan belas tahun :)”

Sedari tadi aku tidaklah puitis. 
Apalagi bermaksud sok manis. 
Ini semua terjadi begitu saja. 
Tertulis. 
Mengabadi. 
Magis.

ZHELAYU USPEKHA!

Tidak ada komentar:

Posting Komentar