Pada awalnya
kita akan menangis saat kehilangan sesuatu yang berharga --atau mungkin lebih
tepatnya seseorang. Kita menangis bukan semata-mata ingin memberikan kesan
lemah atau benci pada garis takdir. Kita hanya belum rela. Dan ketidakrelaan
itu membuat barisan berlapis yang berusaha mendesak keluar. Memaksa mata
mebukakan jalan pada cairan-cairan ketidakrelaan tersebut.
Namun setelah proses menuju kerelaan usai, kita sudah terlalu letih untuk menyimpan sisa-sisa butir ketidakrelaan. Jadilah kita lega dan mulai mengamalkan ilmu ikhlas. Dengan senyum yang baru. Dengan kerelaan yang menguatkan.
“Karena
sejatinya tak ada kekekalan hakiki, maka kita harus memahami arti ikhlas dengan
lebih baik lagi”
Tidak ada komentar:
Posting Komentar