Kita kerap terlibat dalam pergumulan
hebat. Ego-cemas-ragu-takut-konflik, itu semua membuat kita dipaksa
berdiri di atas sebuah sekat tipis: batas antara rela dan tidak rela.
Kita mesti jatuh–atau menjatuhkan diri–ke salah satunya. Karena bila
tidak, otak, benak, juga batinmu itu akan terus tergugu diserang rasa
bimbang. Dan kebimbangan memang lebih menyedihkan dari penderitaan, kan? Dulu sekali kamu bilang demikian: “ketidakpastian itu menyakitkan”. Aku masih percaya kalimat itu.
Tragedi seret menyeret memang bukan hal baru buat kita. Pergulatan semacam ini..
Tidak ada komentar:
Posting Komentar